🔔 Aktifkan notifikasi disini Google News

Aku Malu Jadi Anak Seorang Guru PNS

Aku Malu Jadi Anak Seorang Guru PNS
Kisah ini aku tulis berdasarkan kehidupan nyata yang aku alami selama hidupku. Banyak orang mengira menjadi anak seorang guru PNS sangatlah menyenangkan. Tapi itu berbanding terbalik dengan apa yang aku alami.

Menjadi anak seorang guru PNS justru membuatku dilema, ketika nilaiku rendah di matapelajaran sekolah, orang akan berkata,"Pecuma anak guru, tapi kok bodoh".

Tapi ketika nilaiku tinggi, mereka justru berkata,"Wajarlah nilainya tinggi, kan anak seorang guru".


Padahal saat aku di rumah, semua pelajaran aku kerjakan sendiri tanpa bantuan orang tuaku. Sama sekali bukan minta ajarin atau dikerjakan oleh orang tua.

Orang-orang banyak salah kaprah, mereka menganggap orang tua seorang guru bisa membantu anaknya mengerjakan soal dirumah.

Padahal guru itu ada jurusannya masing-masing. Mereka hanya berfokus pada satu bidang matapelajaran. Guru IPS belum tentu bisa mengerjakan soal IPA, guru MTK belum tentu bisa mengerjakan soal Bahasa Inggris.

Apalagi orang tuaku seorang guru agama, mana mungkin bisa membantuku mengerjakan soal IPA, IPS, B.Inggris dan lain-lain.

Selain itu banyak yang mengira menjadi anak seorang guru PNS hidupnya terjamin. Itu salah besar menurutku.

Buktinya aku tidak mendapatkan fasilitas yang bisa didapatkan oleh anak petani, pekebun, atau pekerja serabutan.

Ketika anak seorang petani bisa pergi sekolah pakai sepeda motor, aku pergi sekolah hanya bisa jalan kaki.

Ketika anak seorang pekebun bisa sewa kost untuk tempat tinggal selama sekolah, aku hanya bisa di asrama yang notabennya biaya tempat tinggal lebih murah.

Ketika anak pekerja serabutan bisa beli baju baru, sepatu baru, dan barang baru saat pertama kali masuk sekolah, aku hanya bisa memakai barang seadanya.

Aku bukan merendahkan pekerjaan petani, pekebun, atau pekerja serabutan. Tapi kita semua tahu, gaji yang mereka dapat perbulannya kadang tidak pasti dibandingkan gaji seorang PNS. Namun, justru mereka malah bisa memberikan fasilitas terbaik untuk anaknya.

Kadang aku merasa iri dengan mereka yang ayahnya tidak punya gelar. Anak-anaknya kadang susah untuk sekolah, bahkan nilainya sering dibawah nilai raportku, tapi orang tuanya memberikan fasilitas yang serba lengkap.

Berbeda dariku, di sekolah aku sering berprestasi, selalu jadi juara kelas, sering ikut lomba dan olimpiade, tapi fasilitasku untuk sekolah sangat menyedihkan.

Saat SD aku sering dapat peringkat 5 besar sampai 3 besar. Waktu SMP aku sering dapat juara 1 dan 2. Pas SMA nilaiku anjlok gara-gara aku stress tinggal di asrama. Semester awal aku dapat peringkat ke 7 saja.

Sampai akhirnya semester 2 aku memutuskan untuk tinggal dimasjid. Saat itu nilaiku mulai naik menjadi peringkat 5, lalu kemudian peringkat 2 dan juara 1 terus.

Tapi orang tuaku tidak menyadari itu, setelah aku lulus sekolah dengan nilai yang memuaskan bahkan bisa lulus SNMPTN (Bisa masuk Universitas tanpa ikut tes), aku malah di masukkan lagi ke asrama.

Padahal waktu aku SMA kelas 1 di asrama nilaiku jauh turun. Ini malah dimasukkan lagi ke asrama saat kuliah.

Di asrama aku mulai stress kembali karena ada ospek di asrama dan aku kurang suka dengan tingkah laku penghuni asrama.

Mereka suka pakai barang seenaknya. Barang-barang yang sudah dipakai biasanya habis, rusak, atau malah hilang.

Selain itu, pas pertama kali kuliah, kecemburuanku dengan anak petani dan pekerja serabutan makin menjadi-jadi. Ketika mereka bisa pergi kuliah dengan nyaman tanpa beban pikiran, aku harus pergi kuliah antar jemput oleh abangku.

Aku berusaha minta dibelikan sepeda motor tapi tidak diberikan. Padahal sepeda motor itu untuk aku pergi kuliah, bukan untuk berpoya-poya atau kebut-kebutan dijalan.

Bayangkan, anak yang jelas-jelas tidak macam-macam di sekolah, bahkan sering berprestasi, minta satu hal yang mendukung pendidikan saja tidak bisa diberikan. Apalagi kalau aku minta barang untuk main-main?

Akhirnya di awal semester nilaiku berada di bawah IPK yang seharusnya. Di kuliah, IPK adalah patokan nilai yang harus kita capai dalam satu semester.

IPK tertinggi adalah 4.00, IPK lumayan adalah 3.00. Kalau di bawah 3.00 berarti kurang bagus, dan faktanya semester satu IPK ku di bawah 3.00.

Di asrama aku merasa tidak nyaman dengan lingkungannya, akhirnya semester 2 aku memutuskan keluar dari asrama dan mencari kost sendiri dengan uang seadanya.

Aku berusaha hidup tanpa bergantung sama orang tua, karena aku merasa mereka sendiri tidak paham dengan karakter anaknya.

Saat kesulitan itu aku hanya bisa bagikan semua masalahku dengan pacarku, dia yang banyak membantuku dan menyemangatiku.

Bahkan ketika aku ingin pergi kuliah, aku sering dipinjamkan motor olehnya. Sering aku merasa malu dengan dia dan orang tuanya. Karena harus bergantung sama mereka padahal orang tuanya tidak punya gelar apa-apa di belakang nama.

Aku kuliah hanya bisa pakai sepatu bekas abangku, kadang pakai sepeda motornya, kadang pakai sepeda motor pacarku. Rasanya hidupku terlontang lantung di tempat baru.

Aku sering terlambat masuk kuliah karena keribetan itu, kadang kalau ada dosen yang killer (garang), terlambat sedikit saja aku tidak bisa masuk kelas.

Tapi nilai IPK ku setelah keluar dari asrama meningkat jadi di atas 3.00. Aku senang dengan kenaikan itu, walaupun aku harus berpikir gimana caranya agar aku bisa kerja dan menghasilkan uang agar bisa seperti anak yang lain.

Aku juga tidak ingin bergantung terus dengan orang lain, aku ingin punya motor sendiri dan bisa membiayai kuliah sendiri.

Aku berusaha cari sampingan setelah pulang kuliah, kadang aku ngajar les, ngajar bimbingan belajar ditempat kursus, kadang buka jasa service HP & laptop, kadang aku jualan online sambil jual pulsa ke teman-temanku, kadang aku ikut agen asuransi, kadang aku ikut bisnis MLM.

Beratnya masalah ini membuatku kehilangan semangat untuk berkuliah, kadang aku merasa capek sendiri dan malu sendiri dengan statusku sebagai anak seorang guru PNS.

Aku kuliah jadi tidak fokus, di satu sisi aku harus belajar, tapi di sisi lain aku harus berjuang untuk hidup layak seperti yang lain.

Sampai akhirnya aku molor dalam menyelesaikan kuliahku. Sebetulnya, aku terbilang cepat dalam menguasai materi kuliah dan sering sekali jika temanku bingung, mereka bertanya padaku.

Saat aku sudah menyelesaikan semua mata kuliah, alias tinggal skripsi. Justru teman-temanku ada yang masih kuliah untuk memperbaiki nilai yang masih rendah.

Tapi aku nyangkut di skripsi karena begitu banyak beban pikiranku. Karena saat di akhir perkuliahan, aku diberikan motor bekas. Kadang motor itu rusak saat aku mau konsultasi skripsi, itu mengganggu sekali.

Sering aku tidak jadi pergi bimbingan skripsi karena ada masalah dijalan. Sampai-sampai temanku yang nilainya anjlok justru lebih cepat lulus dibandingkan aku.

Kadang ada timbul rasa malu ketika statusku sebagai anak PNS hanya bisa pakai sepeda motor butut, sementara teman-temanku yang dari keluarga kekurangan pakai sepeda motor keluaran terbaru.

Yang lebih miris ketika orang tua membandingkan anaknya dengan anak orang lain. Tapi mereka tidak pernah membandingkan dirinya dengan orang tua lain.

Kadang mereka bertanya,"Kenapa kamu kok belum lulus sedangkan anak si A udah lulus?"

Ingin rasanya menjawab,"Kenapa kalian tidak memberikan fasilitas yang sama seperti yang diberikan si A ke anaknya?"

Lalu bilang,"Orang lain menanam biji kurma, lalu muncul kurma. Sementara diri sendiri menanam biji kelapa berharap muncul buah kurma. Itu tidak mungkin."

Tapi ucapan itu aku simpan sendiri daripada hanya akan menyakitkan. Aku lebih memilih diam, dan menghindar dari kerumunan keluarga daripada ditanya hal yang ingin membuatku protes perlakuan mereka selama ini.

Aku jadi lebih sering di kamar daripada ngobrol bersama orang yang tidak sadar kesalahan mereka sendiri.

Ada banyak hal yang tidak bisa aku ceritakan satu persatu. Beginilah hidup, orang hanya bisa menilai, tapi tak pernah merasakan.

Berpura-pura tegar walau suasana hati ingin rasanya teriak.

Aku cuma mau berpesan dengan semua orang tua, semua anak yang sedang belajar itu butuh motivasi instrinsik (dorongan dari dalam diri atau biasa di sebut kemauan) dan motivasi ekstrinsik (dorongan dari luar atau biasa di sebut lingkungan). Jika salah satunya kurang, maka hasilnya tidak akan maksimal.

Ibarat seorang anak di kasih pulpen dan kertas, tapi anak tersebut tidak ada kemauan untuk menulis, maka sulit untuk membuatnya menulis. Artinya jika lingkungannya mendukung, tapi kemauannya tidak ada, ya sulit.

Begitu juga sebaliknya, ibarat seorang anak punya kemauan ingin menulis, tapi tidak diberikan pulpen dan kertas, maka sulit baginya untuk menulis. Artinya anak ini punya kemauan belajar, namun tidak di dukung oleh lingkungannya. Sama seperti yang aku alami.

Yang terbaik adalah kemauan dan lingkungan harus sejalan agar bisa menghasilkan anak yang berprestasi bahkan membanggakan semua orang.

Akhir kata, setiap anak mempunyai karakter dan mental yang berbeda-beda. Kesalahan dalam mendidik justru akan merusak mental anak, mental yang rusak akan melahirkan masalah dan trauma berkepanjangan. Jadi, jaga dan kenalilah anak kalian sebelum semuanya terlambat.

Mau donasi lewat mana?

SeaBank - Saifullah (9016-9529-0071)

BRI - Saifullah (05680-10003-81533)

BCA Blu - Saifullah (007847464643)

JAGO - Saifullah (1060-2675-3868)

BSI - Saifullah (0721-5491-550)
Merasa terbantu dengan artikel ini? Ayo dukung dengan memberikan DONASI. Tekan tombol merah.

Seorang Guru Bahasa Inggris, Kreator Digital, Editor, Publisher, Advertiser, Blogger, Youtuber, Distributor, Desain Grafis, Web Developer, dan Programmer.

Posting Komentar

Popular Emoji: 😊😁😅🤣🤩🥰😘😜😔😪😭😱😇🤲🙏👈👉👆👇👌👍❌✅⭐
Centang Beri Tahu Saya untuk mendapatkan notifikasi ketika komentar kamu sudah di jawab.
Parse:

Gambar Quote Pre Kode



  • Home


  • Follow


  • MENU


  • Share


  • Comment
Cookie Consent
Kami menyajikan cookie di situs ini untuk menganalisis lalu lintas, mengingat preferensi Anda, dan mengoptimalkan pengalaman Anda.
Oops!
Sepertinya ada yang salah dengan koneksi internet Anda. Harap sambungkan ke internet dan mulai menjelajah lagi.